Ansell Agro Indonesia

Hadir menjadi mitra yang handal bagi petani Indonesia dalam mendukung pertanian organik dan berkelanjutan.

Follow Us

Read More
Hama dan Penyakit

Kerugian Gulma bagi Tanaman dan Cara Pengendaliannya

Kerugian gulma bagi tanaman sering kali tidak disadari oleh petani, padahal dampaknya cukup besar terhadap pertumbuhan dan hasil panen. Dalam kegiatan budidaya, gulma tumbuh sebagai tanaman liar yang bersaing langsung dengan tanaman utama. Jika tidak dikendalikan, gulma dapat menurunkan produktivitas lahan secara signifikan. Selain itu, gulma juga membuat perawatan kebun menjadi lebih sulit dan membutuhkan biaya tambahan. Oleh karena itu, memahami dampak gulma sejak awal menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan tanaman. 1. Gulma Merebut Nutrisi Tanaman Budidaya Pertama, gulma menyerap unsur hara yang seharusnya digunakan oleh tanaman budidaya. Karena kebutuhan hidupnya hampir sama, gulma akan bersaing dalam mengambil nitrogen, fosfor, dan kalium dari tanah. Akibatnya, tanaman utama kekurangan nutrisi dan pertumbuhannya terhambat. Bahkan dalam kondisi tertentu, gulma mampu menyerap unsur hara lebih cepat dibanding tanaman, sehingga tanaman menjadi kerdil dan tidak produktif. 2. Zat Alelopati Gulma yang Menghambat Pertumbuhan Tanaman Selain berebut nutrisi, beberapa jenis gulma juga mengeluarkan senyawa alelopati. Zat ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain di sekitarnya. Contohnya adalah alang-alang dan teki yang dikenal mampu menekan perkembangan tanaman budidaya. Akibatnya, tanaman sulit berkembang meskipun kondisi tanah dan air sebenarnya cukup baik. 3. Gulma Mengganggu Perawatan Lahan Keberadaan gulma membuat lahan terlihat kotor dan tidak rapi. Lebih dari itu, gulma juga menghambat proses pemupukan, penyiraman, dan pengendalian hama. Oleh sebab itu, petani perlu melakukan sanitasi kebun secara rutin agar perawatan tanaman berjalan optimal. 4. Gulma Menjadi Inang Hama dan Penyakit Selanjutnya, gulma sering menjadi tempat persembunyian hama dan sumber penyakit tanaman. Beberapa gulma bahkan berperan sebagai inang virus, seperti virus tungro pada tanaman padi. Jika dibiarkan, penyakit dapat menyebar dengan cepat ke tanaman utama. 5. Gulma Menambah Biaya Produksi Pengendalian gulma membutuhkan tenaga dan biaya tambahan. Jika petani terlalu sering menggunakan herbisida, gulma bisa menjadi resisten. Kondisi ini membuat pengendalian semakin sulit, mahal, dan berisiko mencemari lingkungan. Cara Pengendalian Gulma untuk Mengurangi Kerugian Tanaman Untuk menekan kerugian gulma bagi tanaman, pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, pengendalian kultur teknis melalui pengolahan tanah yang baik. Kedua, pengendalian mekanik dengan mencabut atau membersihkan gulma secara rutin. Terakhir, pengendalian kimiawi menggunakan herbisida sesuai dosis dan waktu aplikasi yang tepat. Kesimpulan Dampak Gulma bagi Tanaman Kerugian gulma bagi tanaman tidak boleh dianggap sepele. Gulma dapat menghambat pertumbuhan, menjadi sumber penyakit, dan meningkatkan biaya produksi. Dengan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan, tanaman dapat tumbuh lebih sehat dan hasil panen pun meningkat.

Read More
Edukasi

Tanaman Pengusir Kecoa: 6 Jenis yang Cocok Ditanam di Rumah

Tanaman pengusir kecoa menjadi solusi alami yang banyak dipilih untuk mengurangi gangguan serangga di rumah. Kecoa sering menimbulkan rasa tidak nyaman dan berisiko membawa bakteri karena hidup di lingkungan kotor. Kabar baiknya, kamu tidak selalu harus mengandalkan obat kimia. Ada beberapa tanaman pengusir kecoa alami yang bisa ditanam di sekitar rumah. Aroma khas dari tanaman ini tidak disukai kecoa, sehingga membuatnya enggan mendekat dan bersarang. 1. Catnip, Tanaman Pengusir Kecoa Alami Catnip (Nepeta cataria) dikenal sebagai tanaman favorit kucing. Namun, aromanya justru sangat tidak disukai kecoa. Tanaman ini cocok diletakkan di sudut ruangan atau teras rumah. Perawatannya cukup mudah. Catnip hanya membutuhkan penyiraman rutin dan lokasi yang tidak terkena sinar matahari langsung. Selain kecoa, tanaman ini juga membantu mengusir semut dan kumbang. 2. Bunga Krisan untuk Mengusir Kecoa Bunga krisan (Chrysanthemum) tidak hanya mempercantik rumah, tetapi juga efektif sebagai tanaman pengusir kecoa. Senyawa alaminya menghasilkan aroma yang membuat serangga enggan mendekat. Tanam krisan di pot dan letakkan di teras atau dekat jendela. Pastikan media tanam tidak tergenang air agar akar tetap sehat. 3. Daun Salam sebagai Pengusir Kecoa Alami Daun salam (Syzygium polyanthum) yang sering digunakan sebagai bumbu dapur ternyata juga ampuh mengusir kecoa. Aromanya cukup kuat dan tidak disukai serangga. Selain ditanam, daun salam kering bisa ditumbuk halus lalu ditaburkan di area yang sering dilewati kecoa. 4. Serai, Tanaman Aromatik Pengusir Kecoa Serai (Cymbopogon citratus) dikenal sebagai tanaman aromatik yang mampu mengusir kecoa dan nyamuk. Minyak atsirinya menghasilkan aroma tajam yang tidak disukai hama. Tanaman ini mudah ditanam di tanah maupun pot, serta bisa dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. 5. Mentimun untuk Menghalau Kecoa Aroma mentimun ternyata tidak disukai kecoa. Daripada meletakkan kulit mentimun yang cepat membusuk, menanam mentimun di sekitar rumah menjadi pilihan lebih efektif. Selain membantu mengusir kecoa, tanaman ini juga memberikan hasil panen yang bermanfaat. 6. Bawang Putih, Tanaman Pengusir Serangga Bawang putih memiliki aroma menyengat yang efektif menghalau kecoa dan serangga lain. Menanam bawang putih di halaman atau pot bisa membantu mengurangi gangguan hama secara alami. Tanaman ini juga mudah dirawat dan berguna sebagai bahan masakan harian. Menanam tanaman pengusir kecoa bisa menjadi solusi alami yang aman untuk rumah. Agar hasilnya maksimal, jaga kebersihan lingkungan dengan baik. Pastikan tidak ada sisa makanan, genangan air, atau sampah terbuka agar kecoa tidak betah bersarang.

Read More
Budidaya

Tanaman Sawi Mati? Ini 3 Penyebab Utamanya

Tanaman sawi dikenal mudah dibudidayakan dan cepat panen. Namun, dalam praktiknya banyak petani maupun pekebun rumahan mengalami sawi yang layu, menguning, bahkan mati sebelum dipanen. Masalah ini umumnya muncul karena kesalahan perawatan. Berikut tiga penyebab utama tanaman sawi mati beserta cara mencegahnya. 1. Serangan Hama dan Penyakit Hama dan penyakit menjadi penyebab paling sering tanaman sawi gagal tumbuh. Ulat daun, kutu daun, hingga thrips kerap menyerang bagian daun, sementara jamur dan bakteri dapat memicu busuk akar dan bercak daun. Tanda-tanda yang muncul: Daun menguning, berlubang, atau layu Bercak cokelat kehitaman pada permukaan daun Akar berwarna gelap dan berbau tidak sedap Cara mencegahnya: Lakukan pengendalian hama alami, seperti menyemprot larutan bawang putih atau menggunakan neem oil Terapkan rotasi tanaman agar patogen tidak menumpuk di tanah Pastikan lahan memiliki drainase baik untuk mencegah busuk akar Selain itu, bersihkan gulma dan buang daun yang sakit agar penyakit tidak menyebar ke tanaman sehat. 2. Kesalahan dalam Penyiraman Penyiraman yang berlebihan maupun kekurangan air sama-sama berisiko membuat tanaman sawi mati. Sawi membutuhkan tanah lembap, tetapi tidak tergenang. Gejala yang bisa diamati: Kekurangan air: daun layu, kering, dan mengerut Kelebihan air: daun menguning dan akar membusuk Langkah pencegahan: Siram tanaman secara rutin, terutama pagi hari Gunakan mulsa organik seperti jerami atau sekam untuk menjaga kelembapan tanah Periksa kondisi tanah sebelum menyiram agar tidak terlalu basah Sebaiknya air diarahkan langsung ke media tanam, bukan ke daun, untuk mengurangi risiko jamur. 3. Kekurangan Nutrisi Tanah Tanaman ini memerlukan nutrisi cukup, terutama nitrogen, untuk membentuk daun yang hijau dan lebat. Tanah yang miskin unsur hara membuat pertumbuhan sawi terhambat. Ciri tanaman kekurangan nutrisi: Daun bagian bawah menguning Pertumbuhan lambat Tepi daun tampak kering atau seperti terbakar Cara mengatasinya: Berikan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang secara rutin Tambahkan pupuk NPK seimbang sesuai dosis Lakukan pemupukan cair organik setiap dua minggu Pastikan pH tanah berada di kisaran 6–7 Kesimpulan Tanaman sawi mati umumnya disebabkan oleh serangan hama, kesalahan penyiraman, dan kekurangan nutrisi. Dengan menjaga kebersihan lahan, mengatur air secara tepat, serta memenuhi kebutuhan hara tanaman, risiko kematian sawi dapat ditekan sejak awal. Perawatan yang konsisten akan membantu tanaman sawi tumbuh sehat dan menghasilkan panen yang maksimal.

Read More
Berita Pertanian

Produksi Beras Nasional 2025 Meningkat Tajam

Produksi beras nasional 2025 mengalami peningkatan signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi beras Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton. Angka ini naik lebih dari 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan memperkuat posisi ketahanan pangan nasional. Selain itu, peningkatan produksi ini memberi sinyal positif bahwa sektor pertanian mulai pulih dan berkembang secara konsisten. Produksi Beras Nasional 2025 Didukung Kenaikan Luas Panen Menariknya, capaian produksi beras nasional 2025 juga melampaui proyeksi beberapa lembaga internasional. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) sebelumnya memperkirakan produksi beras Indonesia berada di kisaran 34,6 juta ton, sedikit di bawah estimasi BPS. Capaian ini bahkan melampaui rekor produksi tertinggi sebelumnya pada tahun 2022. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pertanian nasional mulai memberikan dampak nyata di lapangan. Program Pemerintah Dorong Produksi Beras Nasional 2025 Peningkatan produksi ini tidak lepas dari berbagai program strategis pemerintah. Beberapa di antaranya adalah cetak sawah baru, optimalisasi lahan, rehabilitasi irigasi, serta penyediaan alat dan mesin pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa data BPS menjadi dasar optimisme pemerintah untuk mencapai swasembada beras. Selain itu, kebijakan harga gabah juga dirancang untuk menjaga semangat petani agar terus meningkatkan produksi. FAO Prediksi Produksi Beras Indonesia Tembus 35,6 Juta Ton Optimisme serupa juga datang dari Food and Agriculture Organization (FAO). Dalam laporan Food Outlook Juni 2025, FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia musim tanam 2025/2026 mencapai 35,6 juta ton. Jika proyeksi ini terealisasi, Indonesia berpotensi menjadi produsen beras terbesar keempat dunia. Selain itu, peningkatan produksi ini menjadi bukti bahwa sektor pertanian nasional memiliki daya saing yang kuat di tengah ketidakpastian global. Dampak Positif bagi Petani dan Ketahanan Pangan Selain produksi yang meningkat, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini bertujuan menjaga harga di tingkat petani tetap stabil dan meningkatkan penyerapan gabah. Saat ini, cadangan beras pemerintah dilaporkan telah menembus 4 juta ton. Dengan kondisi tersebut, ketahanan pangan nasional dinilai berada pada posisi yang aman dan terkendali. Kesimpulan Produksi beras nasional 2025 yang meningkat signifikan menjadi bukti nyata penguatan sektor pertanian Indonesia. Dukungan kebijakan, program lapangan, dan peran aktif petani mendorong Indonesia semakin dekat menuju swasembada beras. Jika tren positif ini terus berlanjut, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisinya di pasar pangan global.