
Bapak pucung merupakan salah satu jenis serangga dari ordo Hemiptera dan famili Pyrrhocoridae. Serangga ini dikenal memiliki ukuran tubuh relatif kecil dengan warna tubuh yang mencolok. Dahulu, serangga ini cukup mudah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, terutama di area dengan vegetasi yang rapat dan alami.
Namun, seiring berkurangnya habitat, keberadaan serangga ini kini semakin jarang dijumpai.

Daftar Isi
Mengenal Serangga Bapak Pucung
Secara ilmiah, hama kapas ini dikenal dengan nama Dysdercus cingulatus. Serangga ini termasuk hama penting pada tanaman kapas (Gossypium sp) dan di tingkat internasional dikenal sebagai cotton stainer bug.
Ciri khas hama kapas ini terlihat dari warna tubuhnya yang oranye kemerahan dengan pola hitam, serta panjang tubuh sekitar 12–20 mm. Serangga ini mulai menyerang tanaman kapas sejak fase nimfa hingga dewasa.
Nimfa yang telah besar biasanya menyerang buah kapas, sedangkan individu dewasa lebih banyak merusak bagian bijinya. Aktivitas makan tersebut menyebabkan luka pada jaringan buah, sehingga memicu masuknya mikroorganisme yang merusak kualitas kapas. Akibatnya, hasil panen mengalami penurunan baik dari segi mutu maupun jumlah.
Fakta Menarik tentang Bapak Pucung
1. Perilaku Kawin yang Tidak Biasa
Serangga ini memiliki kebiasaan kawin yang tergolong unik. Aktivitas ini umumnya terjadi pada bulan April hingga Mei. Dalam beberapa kasus, proses kawin bisa berlangsung sangat lama, mulai dari belasan jam hingga beberapa hari, bahkan mencapai satu minggu.
Setelah proses perkawinan, pejantan tidak langsung meninggalkan betina. Perilaku ini berfungsi untuk mencegah pejantan lain membuahi betina tersebut selama masa bertelur.
Seekor betina dewasa mampu menghasilkan sekitar 60–90 butir telur yang diletakkan di tanah sekitar tanaman inang. Telur akan menetas dalam waktu kurang lebih lima hari, lalu nimfa berkembang menjadi dewasa dalam kurun 30–40 hari dengan memakan biji dan kuncup bunga.
2. Jarang Terbang Meski Bersayap
Meski memiliki sayap, serangga ini jarang menggunakannya untuk terbang. Serangga ini lebih sering berpindah tempat dengan berjalan di antara dedaunan dan ranting yang saling berdekatan.
Bapak pucung tersebar di berbagai negara, seperti Indonesia, India, Sri Lanka, Thailand, Nepal, hingga Australia. Karena pergerakannya yang lambat, serangga ini bahkan bisa ditangkap dengan tangan kosong.
3. Hama Khas Tanaman Kapas
Julukan cotton stainer bug muncul karena kebiasaan bapak pucung yang menyerang biji kapas. Saat mengisap cairan biji, serangga ini meninggalkan noda yang menyebabkan penurunan kadar minyak dan daya kecambah biji kapas.
Serangan ini sering terjadi secara berkelompok, sehingga dampaknya terhadap tanaman kapas menjadi cukup serius.
Apakah Bapak Pucung Selalu Merugikan?
Walau tampilannya menarik, sebagian jenis bapak pucung memang tergolong hama. Serangga ini sering ditemukan pada tanaman kapas, kapuk, rosella, dan okra. Pada tanaman kapuk, bapak pucung biasanya hanya singgah, tetapi pada kapas, serangannya dapat menyebabkan bunga dan biji gagal berkembang.
Namun, tidak semua bapak pucung bersifat merugikan. Beberapa jenis bersifat herbivora dan menjadi hama, sementara jenis lainnya bersifat predator atau pemakan bahan organik membusuk. Jenis predator justru berperan positif karena membantu memangsa hama lain seperti ulat.
Apakah Bapak Pucung Terancam Punah?
Jenis bapak pucung predator cenderung lebih rentan mengalami penurunan populasi dibandingkan jenis herbivora. Selama tanaman inang masih tersedia, jenis herbivora relatif lebih mampu bertahan.
Faktor utama berkurangnya populasi bapak pucung adalah kerusakan dan penyempitan habitat. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, kemudian berubah lagi menjadi kawasan industri dan pemukiman, membuat ruang hidup serangga ini semakin terbatas.
Selain itu, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan turut mempercepat penurunan populasi, karena tidak hanya membunuh hama sasaran, tetapi juga serangga lain yang berperan penting bagi keseimbangan ekosistem.
Penutup
Bapak pucung merupakan serangga dengan perilaku dan peran yang unik dalam ekosistem. Meski sebagian jenisnya menjadi hama tanaman kapas, jenis lainnya justru membantu mengendalikan hama lain secara alami. Oleh karena itu, upaya pelestarian habitat dan pengurangan penggunaan pestisida kimia menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan keberadaan serangga ini di alam.




