Tanaman sawi dikenal mudah dibudidayakan dan cepat panen. Namun, dalam praktiknya banyak petani maupun pekebun rumahan mengalami sawi yang layu, menguning, bahkan mati sebelum dipanen. Masalah ini umumnya muncul karena kesalahan perawatan. Berikut tiga penyebab utama tanaman sawi mati beserta cara mencegahnya. 1. Serangan Hama dan Penyakit Hama dan penyakit menjadi penyebab paling sering tanaman sawi gagal tumbuh. Ulat daun, kutu daun, hingga thrips kerap menyerang bagian daun, sementara jamur dan bakteri dapat memicu busuk akar dan bercak daun. Tanda-tanda yang muncul: Daun menguning, berlubang, atau layu Bercak cokelat kehitaman pada permukaan daun Akar berwarna gelap dan berbau tidak sedap Cara mencegahnya: Lakukan pengendalian hama alami, seperti menyemprot larutan bawang putih atau menggunakan neem oil Terapkan rotasi tanaman agar patogen tidak menumpuk di tanah Pastikan lahan memiliki drainase baik untuk mencegah busuk akar Selain itu, bersihkan gulma dan buang daun yang sakit agar penyakit tidak menyebar ke tanaman sehat. 2. Kesalahan dalam Penyiraman Penyiraman yang berlebihan maupun kekurangan air sama-sama berisiko membuat tanaman sawi mati. Sawi membutuhkan tanah lembap, tetapi tidak tergenang. Gejala yang bisa diamati: Kekurangan air: daun layu, kering, dan mengerut Kelebihan air: daun menguning dan akar membusuk Langkah pencegahan: Siram tanaman secara rutin, terutama pagi hari Gunakan mulsa organik seperti jerami atau sekam untuk menjaga kelembapan tanah Periksa kondisi tanah sebelum menyiram agar tidak terlalu basah Sebaiknya air diarahkan langsung ke media tanam, bukan ke daun, untuk mengurangi risiko jamur. 3. Kekurangan Nutrisi Tanah Tanaman ini memerlukan nutrisi cukup, terutama nitrogen, untuk membentuk daun yang hijau dan lebat. Tanah yang miskin unsur hara membuat pertumbuhan sawi terhambat. Ciri tanaman kekurangan nutrisi: Daun bagian bawah menguning Pertumbuhan lambat Tepi daun tampak kering atau seperti terbakar Cara mengatasinya: Berikan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang secara rutin Tambahkan pupuk NPK seimbang sesuai dosis Lakukan pemupukan cair organik setiap dua minggu Pastikan pH tanah berada di kisaran 6–7 Kesimpulan Tanaman sawi mati umumnya disebabkan oleh serangan hama, kesalahan penyiraman, dan kekurangan nutrisi. Dengan menjaga kebersihan lahan, mengatur air secara tepat, serta memenuhi kebutuhan hara tanaman, risiko kematian sawi dapat ditekan sejak awal. Perawatan yang konsisten akan membantu tanaman sawi tumbuh sehat dan menghasilkan panen yang maksimal.
Tanaman jeruk dikenal sebagai salah satu komoditas hortikultura yang menjanjikan. Selain digemari banyak orang, buah jeruk juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun, agar jeruk bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah melimpah, petani harus siap menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah serangan hama kutu pada tanaman jeruk. Mengapa Tanaman Jeruk Sulit Berbuah? Tanaman jeruk terkadang tidak tumbuh optimal, bahkan enggan berbunga atau berbuah. Kondisi ini bisa disebabkan oleh dua faktor utama: Faktor abiotik: seperti suhu, cahaya, curah hujan, kadar garam dalam tanah, air, dan kandungan unsur hara. Faktor biotik: seperti serangan jamur, bakteri, virus, protozoa, dan hama. Salah satu penyebab utama gangguan pertumbuhan adalah hama kutu. Jenis hama ini kerap kali menyerang daun, batang, hingga buah jeruk, sehingga menghambat perkembangan tanaman secara keseluruhan. Jenis Kutu yang Menyerang Tanaman Jeruk Berikut ini beberapa jenis kutu yang menyerang tanaman jeruk yang perlu kamu waspadai: 1. Kutu Loncat Jeruk Kutu loncat umumnya menyerang tunas muda, kuncup, tangkai daun, dan daun-daun muda. Serangannya membuat tunas keriting dan pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Jika dibiarkan, bagian yang terserang bisa mengering lalu mati. Yang lebih mengkhawatirkan, kutu loncat adalah vektor penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration). Meski jika tanaman berasal dari bibit sehat risikonya lebih kecil, kehadiran hama ini tetap bisa merusak pertumbuhan awal. 2. Kutu Daun Cokelat Hama ini mengisap cairan pada daun muda, membuat daun menggulung dan mengeluarkan cairan manis (embun madu) yang memicu tumbuhnya jamur embun jelaga. Selain membuat tanaman tampak kotor, hama ini juga membawa virus CTV (Citrus Tristeza Virus) yang berbahaya bagi jeruk. Gejala lainnya termasuk daun kerdil, perubahan bentuk (deformasi), dan pembentukan benjolan pada daun. Ambang batas pengendaliannya adalah sekitar 20 ekor per tunas. 3. Thrips Thrips menyerang daun muda dan tangkai, membuat permukaan daun menebal, menggulung ke atas, dan pertumbuhannya jadi abnormal. Serangan pada buah meninggalkan bekas luka berwarna cokelat keabu-abuan yang mengurangi kualitas visual. Fase kritisnya terjadi saat tunas muda dan bunga muncul. Bila 5–10% bunga terserang, segera lakukan tindakan pengendalian. Serangan berat dapat menurunkan kualitas hasil panen hingga 60%. 4. Kutu Sisik Kutu sisik menempel di daun dan batang tanaman. Daun yang terserang biasanya menguning, terdapat bercak klorotik, dan seringkali rontok. Jika serangan sudah parah di batang, buah juga bisa gugur. Tanaman yang terserang kutu sisik dalam jumlah besar bisa mengering, rantingnya mati, bahkan menyebabkan tanaman meranggas. Ambang batas pengendalian biasanya 5 ekor per 10 cm cabang tanaman. Cara Mengendalikan Hama Kutu pada Tanaman Jeruk Untuk menghindari kerugian akibat hama kutu, berikut beberapa langkah pengendalian yang bisa dilakukan: Tanam jeruk di gundukan agar pangkal batang tidak terlalu lembap. Kondisi lembap memicu pertumbuhan jamur patogen. Perbaiki saluran drainase supaya air tidak menggenang dan kelembapan tanah tetap terjaga. Lakukan sanitasi kebun secara rutin untuk menjaga lingkungan tanaman tetap bersih dari hama. Sterilkan alat pertanian sebelum dan sesudah digunakan agar tidak menularkan hama dari satu tanaman ke tanaman lain. Dengan mengenal lebih dalam jenis kutu yang menyerang tanaman jeruk dan cara pencegahannya, kamu bisa menjaga pohon jeruk tetap sehat dan berbuah lebat. Jadi, jangan tunggu sampai serangan hama menjadi parah—lakukan tindakan pengendalian sejak dini!

